SEJARAH CANDI BOROBUDUR

 Sejarah dan Asal-Muasal Candi Borobudur

Candi Borobudur bukan sekadar tumpukan batu, melainkan mahakarya arsitektur dan spritual yang menjadi bukti puncak kejayaan peradaban Jawa Kuno. Terletak di Magelang, Jawa Tengah, candi ini adalah monumen Buddha terbesar di dunia.

Mari kita telusuri perjalanan panjangnya, mulai dari gagasan awal hingga menjadi warisan dunia.

1. Fajar Peradaban: Dinasti Syailendra dan Visi Besar

Cerita dimulai pada abad ke-8 Masehi, di masa keemasan Kerajaan Mataram Kuno. Tanah Jawa saat itu dipimpin oleh dua dinasti besar: Dinasti Sanjaya (Hindu) dan Dinasti Syailendra (Buddha Mahayana).

Pembangunan Borobudur diinisiasi oleh raja-raja dari Dinasti Syailendra sekitar tahun 750 M. Nama "Borobudur" sendiri kemungkinan berasal dari gabungan kata "Bara" (kompleks wihara) dan "Budur" (tempat tinggi), yang berarti "Kompleks Wihara di atas Bukit".

Visi para raja Syailendra adalah menciptakan sebuah monumen yang tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga berfungsi sebagai pusat ziarah dan ajaran Dharma, sebuah representasi alam semesta dalam ajaran Buddha.

Proses pembangunannya memakan waktu tak kurang dari 75 tahun dan selesai sekitar tahun 825 M, di masa pemerintahan Raja Samaratungga. Bahan utamanya adalah batu andesit yang diambil dari sungai-sungai di sekitarnya, dipotong, dan disusun presisi tanpa menggunakan semen atau perekat.




2. Arsitektur: Konsep Spiritual dalam Bentuk Batu

Borobudur didesain dalam bentuk Punden Berundak, sebuah pola asli nusantara yang dipadukan dengan konsep Mandala dari India. Jika dilihat dari atas, Borobudur membentuk bagan alam semesta yang simetris.

Candi ini terdiri dari tiga tingkatan utama yang melambangkan tahapan spiritual dalam Buddhisme Mahayana:

Kamadhatu (Kaki Candi): Dunia yang masih dikuasai oleh kama (nafsu) dan keinginan. Di bagian yang sekarang tertutup ini, terdapat relief Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab-akibat perbuatan manusia.

Rupadhatu (Lima Teras Persegi): Dunia berbentuk, di mana manusia mulai meninggalkan nafsu tetapi masih terikat rupa dan bentuk. Di sinilah ribuan panel relief cerita (seperti Lalitavistara dan Gandavyuha) serta ratusan arca Buddha berada.

Arupadhatu (Tiga Teras Melingkar & Stupa Induk): Dunia tanpa rupa, melambangkan kesempurnaan dan pencerahan tertinggi. Tingkat ini polos, dihiasi 72 stupa berongga yang berisi arca Buddha, mengelilingi satu stupa induk yang megah namun kosong.

3. Masa Kegelapan: Ditinggalkan dan Terlupakan

Kejayaan Borobudur sebagai pusat ziarah tidak bertahan selamanya. Sekitar abad ke-10, pusat kekuasaan Mataram Kuno bergeser ke Jawa Timur (dimulai oleh Mpu Sindok). Penyebab pastinya masih diperdebatkan, namun kemungkinan besar karena letusan dahsyat Gunung Merapi dan konflik politik.

Perlahan, Borobudur ditinggalkan. Selama berabad-abad, monumen suci ini terkubur di bawah lapisan abu vulkanik, tanah, dan tumbuh-tumbuhan liar. Ia menjadi legenda yang terlupakan, diselimuti mitos dan takhayul oleh penduduk setempat.




4. Penemuan Kembali dan Kebangkitan

Setelah berabad-abad terkubur, titik terang muncul pada tahun 1814. Saat itu, Inggris tengah menduduki Jawa, dan Sir Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai Letnan Gubernur. Raffles, yang sangat tertarik pada sejarah Jawa, mendengar laporan tentang adanya monumen besar yang tertimbun di dalam hutan dekat desa Bumisegoro.

Raffles tidak bisa pergi sendiri, tetapi ia mengutus seorang insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk menyelidikinya. Cornelius dan timnya selama berminggu-minggu menebang pohon, membakar semak, dan menggali tanah vulkanik. Perlahan-lahan, arsitektur megah Borobudur kembali terlihat.

Meskipun penemuan ini monumental, kondisi Borobudur saat itu sangat memprihatinkan karena kerusakan alam dan penjarahan arca.

5. Restorasi dan Keagungan Masa Kini

Kebangkitan Borobudur dimulai pada awal abad ke-20. Pemugaran besar pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Theodoor van Erp (1907-1911). Van Erp fokus pada penguatan struktur dan penataan kembali stupa-stupa di bagian atas.

Pemugaran paling komprehensif dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, bekerja sama dengan UNESCO, pada tahun 1973 hingga 1983. Candi ini dibongkar total, setiap batunya dibersihkan, didata, dan disusun kembali dengan teknologi modern. Setelah selesai, Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991.




Kini, Borobudur berdiri megah sebagai simbol kebanggaan Indonesia, pusat ziarah utama umat Buddha (terutama saat perayaan Waisak), dan destinasi wisata dunia yang memukau. Ia adalah monumen hidup yang menghubungkan kita dengan kejayaan, spiritualitas, dan ketahanan peradaban masa lalu.

Komentar